Jejak Beno

0
16

Sangat sulit buat saya pribadi menuliskan obituari ini. Pertama, karena saya tak pernah berharap melakukannya, apalagi dalam waktu secepat ini. Kedua, menuliskan hal semacam ini pada orang yang begitu mengubah hidup saya (dan juga hidup banyak orang) terasa amat menyesakkan dada. Terpaksa ingatan saya mengingat-ingat detil tentangnya (wajah, seringai, ucapan, tindak-tanduk, juga sekian banyak kegemarannya: rokok, kopi hitam), dan jujur, hal itu sangat jauh dari kata menyenangkan. Saya pun hanya bisa berhadap tulisan sederhana ini menjadi awalan untuk biografi yang lebih panjang mengenai sosok luar biasa ini. Agar kaum buruh Indonesia mengetahui “pahlawan” sesungguhnya bagi mereka (tak cuma pahlawan ala rezim yang tak kita ketahui sumbangsihnya bagi rakyat pekerja) dan meneladaninya dalam hal ketegasan dan keteguhan bersikap. Bersama istri saya mengetahui kepergian Beno Widodo terlambat beberapa jam. Meski begitu, hal itu tak mengurangi keterkejutan kami. Beberapa bulan yang lalu, kami juga dikabari kondisi Beno dalam keadaan sakit dan sempat mengalami koma di kota kelahirannya, Madiun. Toh, tetap saja kami tercekat, nyaris tak bisa ngomong apa-apa: kami menangis. Dan saya tahu, banyak orang menangis, mungkin hingga kini. Apa yang bisa saya tangkap dari seorang Beno adalah, sekian lama bergiat dalam aktivisme, tak ada sosok lain yang bisa dibandingkan dengannya. Dia nyaris menjulang sendirian sebagai aktivis yang mendedikasikan seluruh hidupnya bagi kemenangan kaum buruh. Meskipun belum tergapai, Beno menyusun jalur yang tepat bagi penerusnya menuju kemenangan itu. Memiliki keluarga kecil (istri yang bekerja di Bandung dan anak di rumah mertua di Banyumas), Beno sama sekali tak merasa ribet dengan hal ini. Adalah konsekuensi menjadi pimpinan buruh, waktunya bagi keluarga nyaris tandas. Perihal anaknya yang dititipkan pada mertuanya, dia kerap berkelakar, “Anak itu titipan Tuhan, dan ada baiknya kita titipkan lagi ke mertua,”. Sebuah cara yang lucu untuk membuat orang berhenti bertanya-tanya. Pun, ketika di Bandung, kota yang merupakan titik pijak keaktifisannya, waktunya tak melulu untuk berkumpul dengan istri tercinta. Pilihan ini bukannya tanpa risiko. Pernah ada sejumlah pihak yang mempersoalkan hal ini dan menganggapnya sebagai contoh yang buruk dalam memperlakukan keluarga. Tuduhan ini pada akhirnya redup sendiri lantaran – meski tak cukup waktu buat keluarganya sendiri – apa yang dijalani Beno dan keluarganya berlandaskan pada keputusan bersama di antara mereka. Salut untuk Mbak Surti dan Bagas! Di era penuh “kemalasan” seperti saat sekarang, Beno adalah antitesis yang sempurna. Apabila tak ada agenda yang berbarengan, dia akan dengan mudah mengiyakan undangan dari kota-kota terjauh sekalipun. Padahal, tak ada jaminan imbalan atau sekedar ongkos jalan. Bahkan jika tak mendesak betul, perjalanan menuju kota tujuan laksana turing saja baginya. Dia akan menjelajahi kota demi kota, termasuk mengunjungi anaknya di Banyumas, menjumpai banyak orang, sebelum akhirnya sampai di kota yang dituju. Saya pernah mengalami petualangan kecil semacam ini dengannya. Meski hanya bertemu kawan lama di lokasi yang amat terpencil, bagi Beno seperti kesempatan yang tak boleh terlewatkan. Jadilah kami bertolak dari satu kota ke kota lain, berbincang setengah hari dengan seorang kawan di satu kota, kemudian beranjak ke derah lain untuk mandi, menginap, dan tentu saja berdiskusi dengan tuan rumah, untuk kemudian esok harinya kembali ‘bergerak’. Tak heran, kegemarannya ini membuat dirinya dikenal banyak orang, selalu diminta mampir, dan itu membentang setidaknya sepulau Jawa ini. Tentu bukan hanya soal ‘kerajinan’-nya berkunjung ke banyak tempat yang membuat Beno berhasil merajut ribuan perkawanan sekaligus jaringan. Lebih dari itu, kawan kita yang satu ini tampil supel, suportif, dan mampu membuat orang yang berbincang dengannya ikut merasa penting. Jangan lupa, guyonannya yang khas dan sanggup mencairkan pembicaraan paling serius sekalipun. Soal ini, tampaknya Beno sadar betul bahwa ‘terlalu’ serius justru membikin jarak dengan lawan bicara dan dengan demikian setengah kegagalan dalam mengorganisir. Pergaulan yang amat luas sangat mendukung perbendaharaan joke atau guyonan yang dimilikinya. Dan Beno sepertinya menyiapkan energi khusus untuk mengoleksi guyonan tersebut (termasuk di grup di Facebook bertajuk “Guyon Segar ala Rakyat Pekerja” yang sengaja dia bikin). Pengalaman pribadi yang unik-unik dan tentu saja lucu yang tak segan dia sampaikan kian menambah antusiasme khalayak mengikuti obrolan dengannya. Kedekatan dengan Beno bagi sebagian kawan, pun melebar mencakup urusan-urusan pribadi. Dia menerima banyak curhat, entah laki-laki entah perempuan. Sebagai pimpinan organisasi, dia seperti sekaligus menanggung tugas informal sebagai mediator perselisihan pribadi, membantu mencarikan pekerjaan bagi yang membutuhkan, bahkan juga mak comblang. Beno tak pernah sekali pun menolak hal-hal semacam ini. Baginya, urusan pribadi yang tak terpecahkan akan juga mengganggu organisasi jika hal tersebut menimpa pengurus organisasi. Jika menimpa orang lain, sumbangsihnya turut membantu pengorganisiran. Pola-pola kerjanya, tak heran, mampu dengan cepat mengubah keadaan, sekaligus menggugah kesadaran kaum buruh untuk berserikat di banyak daerah. Mantranya cukup jelas, ketakutan yang dialami buruh untuk berserikat lantaran dua hal, “Buruh yang tak memiliki pengetahuan memadai, dan atau merasa sendirian.” Seketika dua masalah itu teratasi, niscaya keberanian itu bakalan bangkit. Tapi jangan salah, dalam rapat-rapat, Beno bisa mendadak tampak garang. Dia sama sekali tak segan mengevaluasi kinerja sesama pengurus dalam kata-kata yang lugas dan terdengar menyakitkan. Baginya, kolektivitas adalah segala-galanya. Saat bagian dari kolektif kerja terlihat melenceng atau justru keluar dari prinsip-prinsip kolektivitas, Beno bersikap tegas dan langsung mengkritik tanpa tedeng aling-aling. Dia memiliki cukup informasi, sehingga sangat pede ketika menilai kekurangan orang lain. Hal ini kadang disalahmengerti oleh satu-dua pihak, yang kemudian berimbas pada perselisihan yang berlanjut di luar rapat. Bagi yang memahami, kritik-kritik Beno sangat konstruktif dan menjaga organisasi dari penyelewengan-penyelewengan. Beno sadar, semakin besar organisasi semakin besar pula godaan yang mengintai pimpinan-pimpinannya. Berbagai riak dan gelombang memang menghantam serikat. Sebuah situasi yang jamak terjadi, apalagi bagi serikat buruh yang terus berkembang seperti KASBI. Pada awalnya, terlihat akan menggoyahkan atau mengancam keberadaan serikat, tapi terbukti sebaliknya. Berkat kolektivitas dan kepemimpinan luar biasa (yang tak bisa dilepaskan dari peranan Beno di dalamnya), KASBI justru makin berkembang dan berkibar. Kamis sore, 9 November 2012, sehabis mengikuti rapat di Bandung, Beno pulang dan mandi. Itu adalah aktivitas terakhirnya. Jantungnya tak mau berkompromi lagi. Seharusnya sesudah dirawat beberapa bulan lalu di Madiun itu, Beno istirahat total baik aktivitas maupun pikiran. Tapi Beno bukan Beno jika berlaku serupa itu. Seperti tak ada yang mampu menahan keinginannya, pun dengan maut yang mengintai sewaktu-waktu. Dia tetap ‘beredar’, mengikuti berbagai pertemuan, berjumpa dengan kawan-kawan di banyak tempat. “Saat dirawat di Madiun, sempat-sempatnya dia mengikuti info penangkapan kawan-kawan di Tangerang saat berdemo. Denyut jantungnya drop dari 80 menjadi 50. Terpaksa aku mengambil BB-nya,” kenang Parto, karib Beno. Kepergian Beno yang mendadak bisa jadi adalah pukulan berikutnya yang menghantam KASBI, mungkin pukulan terbesar yang mesti ditanggung pimpinan dan anggota KASBI di seluruh Indonesia. Sulit menemukan padanannya, meski hanya setengah atau seperempatnya saja. Tapi, pijakan besar telah ditorehkan Beno, dan hal tersebut merupakan modal cukup bagi penerusnya memperjuangkan pemenuhan cita-cita kesejahteraan dan kekuasaan kaum buruh. Selamat beristirahat, Kawan. Kakimu tak lagi menjejak banyak tempat. Namun pikiran dan hasil kerjamu mengembara kemanapun arah angin bertiup, lagi siap menginspirasi perjuangan kaum buruh Indonesia menjadi jauh lebih bermakna. Begitu banyak kenangan, begitu banyak kesan. Mengingatmu, aku menangis tak habis-habis. Saat Kayla berumur persis sebulan. Tulisan ini untuk menyemarakkan peringatan 7 hari meninggalnya Kawan Beno Widodo, Kamis, 15 November Pkl 18.00 WIB di sekretariat Konfederasi KASBI, Jl Cipinang Kebembem, Pisangan Timur, Jakarta Timur

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/videlyae/joko-sumantri-jejak-beno_551a292f813311f07e9de0df

LEAVE A REPLY