Nining Elitos Srikandi Kaum Buruh

0
60

Semuanya berawal dari mimpi. Impian tentang kehidupan yang indah dan makmur di Ibu Kota telah menuntun Nining Elitos, seorang perempuan lugu dari pedalaman Bengkulu, menuju Jakarta pada 1998, 16 tahun lalu.

Layaknya banyak pendatang di Ibu Kota, Nining juga punya keinginan mengubah peruntungan ekonominya. Di kampung halamannya, Nining hanya mampu bekerja sebagai kasir di toko roti, setelah menamatkan pendidikan di sekolah menengah kejuruan (SMK).

“Di desa kami selalu mendengarkan propaganda tentang kesuksesan-kesuksesan ekonomi di kota-kota besar,” katanya.

Sesampai di Ibu Kota Jakarta, Nining melanjutkan perantauannya ke kota tentangga, Bekasi. Di sana, ia melamar ke sebuah pabrik garmen, PT Arotamas Textile Industri. Ia kemudian diterima di bagian quality control (QC). Namun, fakta yang temui di sana berbeda 180 derajat dengan mimpinya.

Upah bulanan yang diterima sama sekali tidak bisa digunakan mendongkrak nasibnya menjadi lebih baik. “Kami gajian tanggal 1, tapi hanya beberapa hari itu sudah habis,” ujarnya ketika ditemui SH di kawasan Cipinang, Kebembem, Selasa (2/4).

Upah buruh di tempat Nining bekerja hanya Rp 180.000 per bulan. Upah itu habis membayar kontrakan Rp 50.000, transportasi pulang-pergi, dan makan setiap hari. “Habis gajian kami pusing lagi,” ucapnya.

Fakta-fakta yang ia temui setiap hari itu lambat laun melahirkan pertentangan dalam pikirannya. “Mengapa kami diperlakukan sewenang-wenang yang luar biasa, padahal banyak cacian yang keluar seperti kebun binatang,” katanya dalam hati.

Pertentangan dalam pikirannya semakin memuncak ketika ia menyaksikan pemutusan hubungan kerja (PHK) sepihak yang dilakukan bagian personalia perusahaan kepada belasan cleaning service. Meskipun telah bekerja puluhan tahun, mereka hanya mendapat pesangon sekali gaji ketika PHK datang.

Nining kemudian mencoba melobi sejumlah buruh untuk melaporkan hal itu kepada Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI). “Kami mencoba berkomunikasi, tetapi malah dibentak-bentak dan dimarahi. Padahal, kami melihat uang kami dipotong untuk iuran, tapi tidak diadvokasi. Organisasi jadinya hanya tameng perusahaan,” tuturnya.

Terdorong keinginan mendapatkan keadilan, ia bersama beberapa buruh akhirnya mendirikan Serikat Buruh Mandiri. Penolakan pesangon terhadap belasan cleaning service yang di-PHK menjadi perjuangan pertama serikat buruh yang baru didirikan itu. “Kami hanya terdiri atas 20 orang,” ujarnya.

Demo Membuahkan Hasil
Mereka juga memperjuangkan hak-hak buruh lainnya, seperti cuti haid, penyediaan ventilasi, air minum, kenaikan upah, uang makan, dan transportasi. “Uang makan kami Rp 100 per hari. Padahal, harga gorengan ketika itu juga sudah Rp 100,” katanya.

Melalui aksi mogok, perjuangan mereka membuahkan hasil. Belasan karyawan yang di-PHK mendapatkan pesangon sesuai masa kerja. Sementara itu, dari 11 tuntutan yang diajukan, delapan di antaranya dipenuhi perusahaan.

Keberhasilannya memimpin aksi mogok itu menempatkannya sebagai ketua serikat pekerja. “Kami hanya 20 anggota tadinya, tapi setelah aksi itu, anggota kami mayoritas,” ucapnya.

Namun, perusahaan rupanya melihat Nining berpotensi membahayakan mereka. Oleh karena itu, jurus rayuan dan sogokan dilancarkan. Nining dirayu dinaikkan jabatannya dan menerima fasilitas kendaraan jika mau meninggalkan posisi ketua serikat pekerja.

Nining bergeming dengan tawaran-tawaran itu. Kesejahteraan bagi Nining, berarti harus bersama-sama, bukan sendiri-sendiri. “Perusahaan memberikan tawaran menggiurkan supaya saya tidak memimpin unjuk rasa,” katanya.

Perusahaan tidak tinggal diam dengan penolakan Nining. Setelah tawaran kenaikan jabatan ditolak, perusahaan bersiasat “membungkam” Nining dengan menurunkan jabatannya. Dari bagian quality control, Nining diturunkan sebagai helper. “Saya tidak apa-apa diturunkan jabatannya,” ujarnya.

Pada 31 Maret 2000, terjadi pergantian pemimpin personalia dari sipil menjadi pensiunan militer. Sekali lagi, Nining dipaksa menerima fasilitas dengan catatan mundur dari serikat pekerja. “Saya menolak, keesokan harinya, saya tidak boleh masuk kerja dan diadang di pintu gerbang oleh sekuriti. Mereka bilang terima perintah dari atasan,” tuturnya.

Nining tetap melawan. Dia membawa kasus itu ke sengketa hubungan industrial. Namun, ia akhirnya kalah. Ia tetap harus di-PHK, setelah 1,5 tahun berjuang.

Pengalaman di tempat kerja pertamanya tak membuatnya jera. Setelah menganggur beberapa bulan, ia melamar sebagai buruh di PT Sinde Budi Sentosa, sebuah perusahaan produk farmasi. Keterlibatannya di serikat pekerja secara aktif membuat kontrak kerjanya tidak diperpanjang, sekalipun belum jatuh tempo.

Ia kemudian bekerja di PT Garmen Industri. Namun tidak sampai setahun, ia dipecat. Lagi-lagi alasannya sama, ia masuk daftar hitam pemilik modal karena keterlibatannya di serikat pekerja. “Sudah, setelah itu saya memutuskan waktu saya untuk terlibat di organisasi secara penuh,” katanya.

Menyadari persoalan buruh bersumber dari sistem negara yang menindas, Nining aktif membangun Gabungan Serikat Buruh Mandiri (GSBM). Pada Kongres Pendirian GSBM, ia terpilih menjadi wakil ketua II pada periode 2000-2003.

Selanjutnya dengan kemampuan administratif dan kedisiplinannya, ia dipercaya menjadi sekretaris umum dalam dua periode kepengurusan GSBM, yakni 2003-2006 dan 2006-2009.

Keaktifannya dalam mengerjakan organisasi dan pembawaannya yang supel mengantarkannya terpilih menjadi Ketua Umum KASBI periode 2008-2011. Ia terpilih kembali sebagai Ketua Umum Kasbi untuk kedua kalinya dengan masa tugas 2011 – 2015. Sebagai Presiden Kasbi, Nining kini memimpin 31 federasi dan memiliki 130.000 anggota.

Nining mengatakan, dari dulu hingga kini, buruh tetap memiliki tantangan yang sama. Buruh tidak pernah dijadikan partner dalam berproduksi ataupun berusaha sehingga upahnya tidak pernah layak. “Gaji buruh parameternya mengacu bujangan. Ketika diterapkan pada buruh berkeluarga, gaji mereka pasti tidak pernah cukup,” katanya.

Oleh karena itu, ia selalu mengingatkan kaum buruh, “Kesejahteraan bukan pemberian cuma-cuma dari majikan, tetapi karena direbut.” Untuk merebut hal itu, dibutuhkan persatuan dan kesepahaman tentang posisi dan nasib mereka.

Sumber : Sinar Harapan

LEAVE A REPLY