Kisah Buruh Perempuan di Tempat Kerja

0
26

Bukan perkara mudah menjadi seorang ibu atau calon ibu yang tetap harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, apalagi sebagai buruh kasar. Jumisih, Ketua Federasi Buruh Lintas Pabrik (FBLP), menjadi saksi hidup perjuangan para ibu dan calon ibu yang terpaksa menjadi buruh karena tuntutan ekonomi.

Menurut Jumisih, jangankan upah yang layak, dari sisi fasilitas yang layak pun mereka tidak bisa mendapatkannya. Di beberapa pabrik pun ia mendapatkan kasus banyak buruh perempuan yang keguguran akibat tidak ada pengurangan beban pekerjaan.

“Saya melihat teman saya, dalam kondisi dia yang sedang hamil, dia duduk menjahit sepanjang hari karena dia bekerja di pabrik garmen. Dia tidak diberikan pengurangan target produksi besar. Bahkan dipaksa lembur, pulang malam dan itu memprihatinkan,” kata Jumisih kepada CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.

Tak sampai di situ, tidak adanya fasilitas air minum yang layak di beberapa pabrik, juga memaksa ibu-ibu hamil berusaha lebih keras dalam mempertahankan kesehatan janinnya. Mereka meminum air rebusan dari kaleng besar yang biasanya digunakan untuk memanaskan setrikaan. Jumisih menilai ini akan membahayakan kehamilan.

“Sementara buruh perempuan yang sedang hamil kan harus lebih nyaman dan sehat kondisinya. Itu saja airnya bikin enek. Kayak ada rasa karat,” ujarnya.

Jumisih mengatakan banyak cerita mengharukan yang harus ia dengar dari rekan-rekan buruh perempuannya di pabrik. Yang paling parah, alih-alih disuruh pulang dan beristirahat atau ke dokter, buruh yang sempat mengalami keguguran malah hanya dibiarkan istirahat di tempat kerja selama beberapa jam, lalu diminta untuk bekerja kembali.

“Mereka paling hanya diminta tidur di klinik setelah itu harus kerja lagi. Padahal kan untuk orang yang keguguran butuh pemulihan paling tidak dua hari atau sampai satu minggu. Ini hak yang belum diberikan oleh perusahaan,” kata Jumisih.

Bagi pekerja perempuan yang sudah melahirkan, penderitaan juga masih harus ditanggung. Tidak jarang banyak buruh yang dipecat setelah melahirkan, dengan alasan sudah ada orang baru untuk mengisi pekerjaan yang selama ini kosong.

“Cuti melahirkan banyak yang putus hubungan kerjanya. Yang penting saat melahirkan perusahaan tidak menanggung,” ujar Jumisih.

Biaya melahirkan pun jarang yang diganti oleh perusahaan. Padahal untuk sekelas buruh, biaya yang harus dikeluarkan pada waktu hamil sampai anak berusia satu tahun terbilang mahal. Jumisih menaksir nominalnya bisa lebih dari Rp24 juta.

Masa setelah melahirkan pun tetap tidak menguntungkan bagi buruh perempuan. Tidak adanya ruang laktasi membuat beberapa di antara mereka harus berjuang bolak-balik ke rumah di waktu istirahat, untuk memberikan ASI buat anaknya. Sebagian lagi memilih memberikan susu formula yang harganya pun tidak murah.

Kesadaran perusahaan menyediakan ruang laktasi tidak ada sama sekali. Padahal pemerintah sudah memberikan aturan tertulis yang meminta perusahaan untuk memberikan ruang laktasi.

“Gara-gara tidak ada ruang laktasi, air susu membeku. Atau yang terpaksa harus memerah, mereka melakukan di kamar mandi. Itu kan tidak steril,” kata Jumisih.

“Banyak juga kejadian yang menyumpal payudaranya dengan pembalut supaya air susunya tidak menetes. Pada saat dalam posisi menyusui tidak diperah, badan akan panas dingin dan mempengaruhi kondisi ibu.”

Kini, Jumisih bersama rekan-rekannya sedang berjuang untuk memperbaiki keadaan. Mereka menuntut pemerintah agar lebih peka dan keras membela hak buruh perempuan, yang sebenarnya sudah diatur oleh undang-undang, tapi tidak dipatuhi oleh perusahaan nakal.

“Ini peran pemerintah. Undang-undang tenaga kerja, ratifikasi ILO, sudah cukup mengatur hak pekerja perempuan. Tapi ternyata implikasinya semua dilanggar. Bagaimana mungkin perempuan bekerja bisa mengalami keguguran saat bekerja? Itu berarti kan sudah berat sekali,” ujar Fifi rekan Jumisih dari Perempuan Mahardika. (les/les)

http://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20151219032825-277-99253/kisah-buruh-perempuan-di-tempat-kerja/

LEAVE A REPLY