Nyala Api Pejuang Buruh Beno Widodo

1
41

benoDi seberang jalan sana tanah lapang penuh kaos dan bendera berwarna merah. Tanggal 16 September 2012. Di tengahnya sebuah panggung menyurakan suara-suara politik buruh. Mereka seakan curhat yang cerdas, cerita tentang keluhan ekonomi hidup. Suara realitas kehidupan buruh.

Di bawah pohon trotoar jalan, ia duduk bersila. Matanya tajam. Ia menyatakan, “Mati suri gak kerasa apa-apa.”

Pernyataan tentang pengalamannya sendiri. Tentang sakit. Sekitar beberapa bulan sebelumnya, ia mengidap penyakit. Itu seakan puncak, setelah sebelumnya, beberapa tahun yang lalu, beberapa kali ia mengeluh encok. Rumah sakit jadi pelabuhan. “Antara kerasa dan gak kerasa di rumah sakit, tapi pas sadar-sadar udah diimpus.” Ia pun melanjutkan, “Terus diceritai, aku sempat kritis. Garis komputer, kayak film-film itu loh, udah lurus aja.” Sambil menggenggam balckberry ia melanjutkan, “Jantungku sempat gak jalan. Untung waktu itu saudaraku jaga aku di samping kan, langsung dia manggil orang rumah sakit, terus dipompalah jantungku.” Ia semangat hidup di kala kritis. Ia semangat hidup di kala sakit.

“Inilah sekarang,” ucapnya, menutup kisahnya selama rumah sakit. Wajahnya sumringah kala berkisah. Sambil sesekali melihat rekan-rekan berkaos merah hilir mudik di depannya. Di tengah-tengah lapangan, yang terletak di kawasan Cikarang, seberang jalan terdengar suara, “Mari kita dukung mogok nasional. Momen Halal Bihalal ini,” yang lantang dan berani.

Kini, usai Halal Bihalal, sebulan setelah itu, Oktober 2012, aktivitasnya kembali di Rancaekek. Ia masuk ke dalam rumah sederhana. Di tangannya kantung plastik hitam. Sesampainya tepat di ruang tamu, ruang yang biasa dijadikan ruang rapat, tepatnya di depan televisi, ia mengeluarkan isi kantung plastik itu. Dua botol air mineral beserta beberapa cemilan. “Resiko gak ngopi gini,” sindir seorang temannya, Mang Odoy, yang dipercaya rekan-rekan buruh lainnya untuk menghuni rumah sekretariat organisasi buruh itu. “Udah lama gak ngopi, gak berani ngopi ngerokok lagi, selama sakit parah kemarin,” paparnya.

Dalam perbincangan, dengan gestur tubuh tangan kiri di pinggang dan tangan kanan menggenggam blackberry, ia mengisahkan anaknya, Bagas. Bagas, anak laki-laki semata wayangnya, sering kali diceritakannya. Dulu, suatu ketika, ia berujar, “Sama yang lain di Madiun sana dia susah dibilangin. Tapi kalau udah aku yang bilang, lembut aja, pasti langsung nurut aja itu.” Beberapa kali pula ia menceritakan, ia, Bagas, dan rekan seorganisasinya berjalan-jalan ke Jogjakarta. Ia selalu menyinggung, ia selalu berbuat yang terbaik untuk Bagas. Ia berusaha agar Bagas tetap mengaji. Ia berusaha agar Bagas tetap rajin sekolah. Ia berusaha agar Bagas berperilaku baik kepada sesama. Ia sadar, tidak maksimal usaha-usaha itu akibat jarak dan aktivitasnya sebagai pengurus organisasi.

Di organisasi, ia selalu hilir mudik ke berbagai daerah. Andai kata, hari ini di Bandung dengan memegang uang seadanya tetapi esok sudah di Jogjakarta. Jawa, Sulawesi, Sumatera, bahkan daerah-daerah besar lainnya pernah disinggahi. Awalnya ia berkedudukan sebagai Sekretaris Jenderal keorganisasian yang dinaunginya. Ia tak sungkan menemui mahasiswa. Ia tak sungkan berdiskusi bersama mahasiswa. Ia tak ragu berkerjasama dengan mahasiswa yang ada di Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jogjakarta, Makassar, hingga Sumatera Utara.

4 s.d 7 Februari 2005, KASBI resmi melakukan kongres pertama. Kongres yang memunculkan ide-ide dasar organisasi, kerja-kerja organisasi, maupun stuktur kepengurusan organisasi secara nasional. Sejak tahun 2005, ia resmi menjabat sekjen KASBI di pusat, Ibu Kota Jakarta. Kongres Aliansi Buruh Seluruh Indonesia. Ia dikenal sebagai Tri Pejuang Buruh PT Kahatex.

KASBI, awalnya hanya, merupakan himpunan serikat buruh yang berskala kecil. PBL (Persatuan Buruh Lampung) Lampung, FSBKU (Federasi Serikat Buruh Karya Utama) Tangerang, SBN (Serikat Buruh Nusantara) Tangerang, SBJP (Serikat Buruh Jabotabek Perjuangan) Bogor, SBI (Solidaritas Buruh Indonesia) Bogor, GSBI (Gabungan Serikat Buruh Independen) Jakarta, SPBDI (Serikat Perjuangan Buruh PT DADA Indonesia) Purwakarta, FPPB (Federasi Persatuan Perjuangan Buruh) Bandung, FSBSK (Federasi Serikat Buruh Setia Kawan) Solo, SERBUK (Serikat Buruh Untuk Keadilan) Wonosobo, FSBI (Federasi Serikat Buruh Independen) Semarang, KP SBY (Komite Persiapan Serikat Buruh Yogyakarta), KKBJ (Kelompok Kerja Buruh Jombang), SBPD (Serikat Buruh Payung Demokrasi) Sidoharjo, SBK (Serikat Buruh Kerakyatan) Surabaya, dan SBDM (Serikat Buruh Demokratik) Malang.

Suatu kali, jauh sebelum kondisi sakit-sakitan, ia bercerita, “Buat apa hidup elite tapi ideologi luntur?” Di kala menjabat sekjen banyak tawaran-tawaran menggiurkan datang kepadanya untuk bermain peran di tengah-tengah gerahnya Ibu Kota Jakarta, tapi ia tetap memilih hidup seperti adanya buruh-buruh yang lain. Suatu ketika ia menegaskan, “Aku itu benci sama orang-orang kaya yang suka ngawur.” “Mengendarai mobil semau-maunya aja,” imbuhnya. Menurutnya, lebih baik hidup menulis opini yang dapat upah ketimbang bermain peranan di Ibu Kota.

Tulisannya memang tak sebanyak para penulis opini atau penulis intelektual lainnya. Tulisannya hanya dapat ditemui dibeberapa ruang media, tetapi ia tetap loyal pada topik perburuhan dan hal-hal yang terkait. Ia pun, kadang, tidak melulu menulis dengan namanya sendiri, demi memenuhi kebutuhan melalui cara yang menurutnya bermartabat di garis ideologi kiri. Kadang menggunakan identitas orang lain karena adanya batasan pengiriman opini.

Pada tanggal 9 November 2012, Jumat malam, pesan singkat elektronik menggiring rekanan di beberapa daerah untuk menunjukkan simpati, salam doa, dan hormat terakhir, berkumpul di AMC Cileunyi, sebelum ia diberangkatkan ke Madiun. Di tengah-tengah kerumunan saat masa subuh itu, Mang Odoy, rekanan sepermainan kartu di kala waktu senggang, terisak tangis sambil berkata, “Baru kamari heureuy,” sembari dirangkul seseorang untuk menenangkannya. Jam menunjukkan pukul 3 pagi, kerumunan yang berkisar ratusan orang menatapi sebuah ambulan yang membawa jasadnya, Bheno Widodo, lelaki tamatan STM, meninggalkan RS AMC untuk dimakamkan di Madiun.

Oleh: Fredy Wansyah

1 COMMENT

  1. I’ve been surfing online more than three hours today, yet I never found any interesting article like yours. It’s pretty worth enough for me. In my opinion, if all webmasters and bloggers made good content as you did, the web will be much more useful than ever before.

LEAVE A REPLY