December 5, 2020

Nining Elitos ‘Srikandi Aktivis Buruh Indonesia’

3 min read

Perempuan sangat jarang kita temui dalam struktur pimpinan organisasi massa, khususnya Serikat Buruh saat ini. Problem domestik keluarga, budaya dan tradisi yang menjadi alasan umum kaum perempuan mengalami kesulitan aktif dalam Serikat Buruh. Namun, semua pandangan itu terbantahkan pada hasil Kongres II KASBI (Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia) di Malang, 24-27 Januari 2008.. Selain menghasilkan sejumlah program dan pembaharuan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga juga terjadi regenerasi/kaderisasi dan terpilihnya seorang ketua umum perempuan pada struktur kepengurusan Pusat periode 2008 sampai dengan sekarang.

Perempuan yang satu ini punya pembawaan santai dan mudah akrab dengan siapapun, dan bila kita sudah kenal akrab, pastilah kita akan sering mendengar tertawa lepasnya disela obrolan serius yang disampaikan. Namanya Nining Elitos, ibu dengan tiga anak dan merupakan anak nomor dua dari delapan bersaudara. Ternyata memiliki sejarah panjang perjuangan hidup setelah menamatkan SMK meninggalkan tanah kelahirannya, yakni Bengkulu.

Perantauannya dalam mencari pekerjaan mendamparkan pada sebuah pabrik pakaian jadi, PT. Arotamas Textile Indutstri, Bekasi pada tahun 1998. Pertentangan dalam pikiranya telah mulai tumbuh setelah bekerja, antara bertahan hidup di tanah rantau, membantu ekonomi orangtua dan memperjuangkan hak di tempat kerja yang dirasakan sangat merugikan buruh. Setahun bekerja, beliau telah tertarik dan aktif di Serikat Pekerja Tekstil, Sandang dan Kulit SPSI, menjadi anggota tingkat Pimpinan Unit Kerja (PUK). Sehingga Perempuan yang gemar mencari Ilmu dengan bertanya dan membaca buku ini, hanya bertahan dua tahun bekerja di pabrik tersebut, karena pada tahun 2000 diPHK karena menjadi Ketua Serikat.

Pengalaman di tempat kerja pertama tidak membuatnya jera, setelah menganggur beberapa bulan dan diterima menjadi buruh di PT. Sinde Budi Sentosa sebuah perusahaan produksi farmasi pada tahun 2000-2001. Tetap aktif di serikat mengakibatkan tidak diperpanjang kontrak kerja karena atasan mengetahui bahwa selama ini Nining aktif di serikat dan memimpin demonstrasi buruh. Tiada pernah jera dan takut, mungkin itu adalah ungkapan yang cocok diberikan kepada ibu yang satu ini. Di tahun 2002 kembali bekerja di perusahaan sekaligus mengorganisir buruh-buruhnya yakni PT. Garmen Industri, namun tidak sampai setahun harus dipecat lagi dengan alasan habis kontrak.

Ibu yang memiliki kegemaran bergaul, membaca serta olahraga ternyata juga sangat aktif dalam berorganisasi, bukan saja di tingkat perusahaan. Dari tahun 1998-1999 menjadi anggota SPSI TSK di PUK dan karena ada hal-hal yang menurutnya kurang pas. Maka pada tahun 1999 aktif mendirikan SBM (Serikat Buruh Mandiri) serta menjadi ketua tingkat perusahaan pada tahun 2000. Menyadari persoalan buruh tidak hanya tingkat perusahaan, namun sumber persoalan ada di tingkat yang besar dan luas maka aktif membangun GSBM (Gabungan Serikat Buruh Mandiri), sehingga pada Kongres Pendirian GSBM terpilih menjadi wakil ketua II pada periode 2000-2003. Selanjutnya dengan kemampuan administratif dan kedisiplinannya dipercaya menjadi Sekretaris Umum dalam dua periode kepengurusan GSBM yakni 2003 sampai 2006 dan 2006-2009. Keaktifannya dalam mengerjakan organisasi dan pembawaannya yang familiar serta tidak congkak (sesuatu yang dibencinya) mengantarkannya terpilih menjadi Ketua Umum KASBI periode 2008 sampai dengan sekarang.

Disela kesibukannya mengurusi kasus buruh dan mengorganisir sebagai tugasnya dalam Serikat, perempuan yang mengidolakan Marsinah, tokoh perempuan buruh yang meninggal dalam perjuangannya serta Wiji Tukul, penyair kritis yang dihilangkan oleh rezim Orde Baru dan Che Guevara, tokoh revolusioner dari Argentina yang berjuang bersama dengan rakyat Cuba dan Bolivia yang meninggal tragis dibunuh pasukan Amerika Serikat. Ternyata aktif juga di organisasi kepemudaaan FPB (Forum Pemuda Bekasi) pada tahun 2000-2002 pada bidang pengembangan anggota dan dilanjut pada tahun 2003-2005 aktif di organisasi pemuda (olahraga) menjadi sekretaris. Karena alasan menikah dan kesibukan di organisasi buruh, maka organisasi kepemudaan ditinggalkan, untuk memprioritaskan kerja-kerja di organisasi Buruh.

Memasuki usia yang ke-30 dan pengalaman-pengalaman memimpin aksi-aksi di Jakarta, ternyata tak menghilangkan kesannya pada semangat persatuan kaum buruh yang memberikan inspirasi perjuangannya saat ini, yakni untuk menuntut hak dan ini benar-benar menjadi kekuatan sehingga tuntutan terpenuhi. Berjuang terus, Bu Pres..!

Sebuah tulisan dari kawan Videlya Esmerella https://www.kompasiana.com/videlyae/551023a4813311c42cbc6a06/nining-elitos

Please follow and like us:

More Stories

4 min read

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lupa, Like Share & Subscribe !

en_USEnglish
en_USEnglish